Dibalik Kejadian Aksi Teror Sarinah Muncul Beberapa Tanda Tanya Besar..

----iklan---
Dibalik Kejadian Aksi Teror Sarinah Muncul Beberapa Misteri Yang masih Jadi Tanda Tanya Besar..


Aksi terorisme di kawasan Sarinah, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1) lalu, menambah daftar serangan teroris di tanah air. Para pelaku yang diketahui memiliki hubungan dengan ISIS itu sempat meledakkan bom bunuh diri di dalam Starbucks dan di pos polisi dekat Sarinah.

Mereka juga memberondongkan peluru kepada polisi yang ada di lokasi. Namun, kebrutalan mereka dengan cepat bisa ditangani Polri yakni dalam empat jam penanganan.

Akibat peristiwa itu, tujuh orang tewas yang terdiri dari lima pelaku dan dua warga sipil. Sementara, 24 orang luka dan harus mendapat perawatan di rumah sakit.

Usai kejadian, Polri langsung tancap gas berusaha mengungkap aksi teror tersebut. Namun masih ada sejumlah hal yang masih menjadi misteri terkait teror tersebut.

1.Orang-orang yang membantu pelaku

Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti mengaku sudah menginstruksikan anak buahnya untuk memburu kelompok radikal yang melakukan aksi teror di kawasan Sarinah,Jakarta Pusat. Kapolri meyakini ada orang yang membantu memfasilitasi lima pelaku peledakan bom dan penembakan di Sarinah.

"Pasti ada orang-orang yang membantu siapa yang memfasilitasi dan sebagainya, tentu semua yang terkait harus dilakukan pengejaran untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Kapolri di RS Polri, Kramat Jati, jakarta, Jumat (15/1).

Terkait pelaku yang disebut-sebut sebagai jaringan ISIS, Kapolri tidak membantahnya. Badrodin juga menyebut sudah mengetahui adanya komunikasi antara pelaku teror di Jakarta dengan di Suriah.

"Dalam aksi baku tembak kemarin. Terakhir kita bisa mendeteksi komunikasi mereka, mereka masih ada di Suriah," ucapnya.


2.Identitas para pelaku


Dari tujuh korban tewas, terdapat lima pelaku peledakan dan penembakan di Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis lalu. Jenazah mereka saat ini berada di Rumah Sakit Kepolisian Pusat RS Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk diidentifikasi.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan pria berbaju hitam dengan menggunakan topi dan membawa pistol yang melakukan penembakan dan tertangkap kamera wartawan di tengah Jalan MH Husni Thamrin diketahui bernama Afif. Afif pernah ikut pelatihan di Aceh.

"Yang tewas pakai topi hitam dan pakai kaos hitam, bawa ransel itu pelaku namanya Afif itu yang ditangkap di Aceh," kata Badrodin kepada wartawan usai salat jumat di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (15/1).

Jenderal bintang empat ini menegaskan, Afif dihukum penjara lantaran ikut pelatihan gerakan radikal di Aceh. "Dia pernah ikut kegiatan (pelatihan) gerakan radikal di Aceh," katanya singkat.

Sementara untuk pelaku lainnya, Kapolri menyatakan masih dilakukan identifikasi. "Sedang dilakukan penyelidikan yang pelaku mana yang bukan yang mana. Tentu kita tidak hanya bisa mengandalkan visual saja, perlu ada tes yang kita lakukan. Supaya sama dengan standar yang ada. Tidak hanya ada satu sumber saja. Tetapi kita bisa mintakan nanti DVI untuk mempertegas agar tidak terjadi adanya kesalahan," ujar Kapolri di RS Polri, Kramat Jati, kemarin.

3.Pelaku teror datang ke Sarinah naik Gran Max


Lima pelaku terorisme Sarinah, Jakarta Pusat, dikabarkan mendatangi lokasi dengan menggunakan sebuah mobil Grand Max berpelat D (Plat Bandung). Menanggapi hal tersebut, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian belum bisa banyak berkomentar.

"Belum ada. Sedang kami selidiki," singkat Tito, di Polda Metro Jaya, Jumat (15/1).

Tito pun langsung membahas tentang olah TKP pasca kejadian terorisme tersebut. Menurutnya semua sudah berjalan dengan baik dan normal kembali.


4.Bahrun Naim

Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian menyebutkan Bahrun Na'im adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam serangan teror di Sarinah, Jakarta. Bahrum diyakini memiliki ambisi besar untuk merebut kepercayaan dari pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Bagdadi untuk memimpin kawasan Asia Tenggara.

Lelaki yang dilaporkan hilang sejak 2015 ini diyakini bergabung dengan ISIS dan bersembunyi di ibu kota Raqqa, Suriah. Dia pernah ditangkap petugas Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Rabu 10 November 2010 lalu, di rumah kontrakannya di kampung Mertrodanan RT 02/03 Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah, karena diduga terkait kasus terorisme.

Bahrun dikenal berprofesi sebagai teknisi komputer dan internet. Dalam penangkapan tersebut juga diamankan dua kotak amunisi jenis peluru AK 349, enam CPU, sarung senjata api, satu laptop, sejumlah keping CD, serta buku-buku.

Setelah diproses hukum, Bahrun divonis penjara selama 2,5 tahun oleh Pengadilan Negeri Solo. Dia terbukti melanggar Undang-Undang Darurat Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dan bahan peledak.

Nama Bahrun kembali mencuat pada medio Maret 2015. Saat itu, Siti Lestari, mahasiswi semester akhir Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo, dilaporkan hilang. Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, wanita asal Kabupaten Demak tersebut dibawa calon suaminya bernama Bahrun Naim, ke Suriah.

sumber : merdeka.com
---iklan---
Tag : Berita, Indonesia
---iklan---
Back To Top